William Rathje, Bapak Garbalogy Modern

26 Mar 2014

Garbalogy istilah yang jarang kita dengar. Tentu masih terasa asing. Garbalogy berasal dari kata Garbage Archaeology atau arkeologi persampahan.

william rathje di atas tumpukan sampah. sumber : http://www.psihoyos.com/pages/Stock/Portraits/rathje-william/pages/rathje-william0002.html

william rathje di atas tumpukan sampah. www.psihoyos.com/pages/Stock/Portraits/rathje-william/pages/rathje-william0002.html

Muncul pertanyaan. Kok arkeologi mempelajari persampahan ?

Perlu diketahui, pada dasarnya arkeologi mempelajari manusia di masa lalu melalui benda-benda peninggalannya. Sampah, termasuk barang peninggalan manusia.

Semula garbalogy ini dipandang sebelah mata. Namun, berbagai riset ilmiah yang dihasilkan menjadikan garbalogy menjadi salah satu disiplin ilmu penting yang berkontribusi di dalam memahami dan memberikan solusi persoalan manusia sekarang ini.

——- o0o——-

Dr. William Rathje dari Universitas Arizona bersama mahasiswanya di tahun 1973 mengawali penelitian sampah dengan menggunakan disiplin ilmu arkeologi. Ide awal penelitian sampah tersebut muncul dari 2 mahasiswanya. Tujuan dari penelitian sampah tersebut adalah memberikan gambaran perubahan kondisi masyarakat modern.

Ribuan ton sampah dipilah-pilah berdasarkan bahan, komposisi, model dan fungsi dari jenis-jenis sampah tersebut.

Kesimpulan dari penelitian, yang semula terkesan aneh tersebut, memunculkan lansekap luar biasa atas kondisi masyarakat yang bisa menjelaskan kenyataan atas perbedaan sosial si kaya dan si miskin dan material apa yang dipakai strata sosial tersebut, termasuk jenis makanan yang dikonsumsi.

Prosedur penelitian Dr. William Rathje kemudian hari banyak diadopsi para pakar disiplin ilmu lainnya, seperti sosiologi.

——- o0o——-

Di tahun 1987, Dr. William Rathje bersama timnya melakukan penggalian pertama gunung tumpukan sampah, dengan tujuan mengetahui tersusun dari apa gunung sampah itu dan seperti apa perkembangan sampah terhadap lingkungannya.

Asumsi umum menyatakan bahwa gunung sampah yang digali akan tersusun paling banyak berupa sisa bahan konsumsi habis pakai, seperti popok bayi, bungkus makanan bahkan stirofoam. Ternyata, asumsi tersebut terbantahkan, karena sampah dari pabrik industri turut menyumbang tempat pembuangan sampah.

Penelitiannya terhadap timbunan sampah di berbagai negara bagian Amerika Serikat membukakan fakta yang menarik seperti ada perbedaan konsumsi di tiap negara, proses biodegradasi sampah ternyata lebih lambat dari dugaan awal.

Botol plastik di bagian atas gunung sampah lebih mudah hancur dibandingkan botol plastik dibagian bawah timbunan. Hal ini dikarenakan, teknologi pengemasan makanan dan minuman yang lebih maju.

Penelitiannya di negara bagian yang tingkat ekonominya rendah, menyatakan bahwa masyarakat bawah ternyata mengkonsumsi makanan yang lebih sehat dibandingkan masyarat atas dengan kemampuan ekonomi tinggi.

——- o0o——-

Seperti dituliskan di atas bahwa Garbalogy turut menyumbang pada metode penelitian disiplin ilmu yang lain. Lebih jauh, mampu menjelaskan perkembangan kondisi masyarakat dari masa ke masa. Garbalogy mematahkan asumsi awal mengenai sumber sampah dan kondisi masyarakat kontributor sampah tersebut.

Dengan fakta tersebut, ketika kita berbicara masalah sampah dan pengelolaannya, ternyata akan lebih baik turut melibatkan banyak disiplin ilmu yang lain. Bukan hanya disiplin ilmu teknis pengelolaan sampah, namun juga ilmu sosial yang bisa memandang masyarakat dalam dimensi yang lebih luas.


TAGS Garbalogy penelitian sampah


-

Author

Follow Me